Thursday, June 26, 2014

Sesak Dentuman Hati~

Terbesit sebuah keinginan, menuliskan sebuah luapan emosi tentang hidup, tentang takdir, pilihan dan usaha yang terbaik
namun apa daya, rasanya lidahku kelu dan jemariku kaku untuk mengungkapkannya. mungkin karena nikmat yang tak terhitung dan sering terabaikan
Hidup itu..
bagiku mungkin seperti melukis di kanvas putih
atau bahkan bagaikan menulis di atas kertas
dengan gurat takdir dan pilihan
dengan garis tegas kehidupan...
ya seperti itu hidup bagiku, sulit, menantang, menguji keteguhan jiwa, memeras otak hingga lelah tak lagi mampu dirasa..
mungkin hingga tubuh terluka karena benturan demi benturan mendera
hidup itu menarik, terlalu pendek jika dijabarkan, namun terlalu panjang untuk dijalankan
bagai pelatihan keimanan, kekuatan sebuah kepercayaan hingga terbesit sebuah pertanyaan...
         "Allah, jika aku masih hidup esok hari, masihkah aku beriman?"
Rabb, satu pinta dengan rinai air mata: jika aku masih hidup esok hari, jadikan aku hambaMu yang lebih baik dari sebelumnya :') aamiin

MENCIUM TANGAN SUAMI, MENCIUM KENING ISTRI .....

note for my future :))

Melepas Suami Pergi Mencari Nafkah
“Bun, pergi yah…” teriak ayah di belakang motornya yang sudah siap melaju.
“Iya, ati-ati…”, teriak bunda tak kalah keras sambil terus melanjutkan cucian piringnya yang belum selesai.
Kok mirip dengan  kejadian tiap pagi di rumahku yah?
Tapi itu masih lumayan dibanding yang berikut:
“Lho ayah kemana, kok sudah nggak ada?” tanya Bunda ke kakak yang sedang asyik main boneka.
“Kayaknya sudah berangkat deh Bun, waktu Bunda lagi cuci baju di belakang” jawab kakak.
Hmm… jadi penasaran, apa yang dilakukan Rasulullah ketika pergi meninggalkan rumah?
‘Aisyah berkata : “Rasulullah menciumku, kemudian beliau pergi ke mesjid untuk melakukan shalat tanpa memperbarui wudlunya” (HR Abdurrazaq, Ibnu Majjah, Aththabrani, dan Daraqutni)
Sebelum meninggalkan rumah, tak lupa Rasulullah berdoa:

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Bismillaahi Tawakkaltu ‘Alallaah Laa Haula wa Laa Quwwata Illaa Billaah
“Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.”
Dilanjutkan dengan doa ini:

اللّهُـمَّ إِنِّـي أَعـوذُ بِكَ أَنْ أَضِـلَّ أَوْ أُضَـل ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَل ، أَوْ أَظْلِـمَ أَوْ أَُظْلَـم ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُـجْهَلَ عَلَـيّ
Allaahumma Innii A’udzubika an Adhilla au Udhalla, au Azilla au Uzalla, au Azlima Au Uzlama, 

Ajhala au Yujhal ‘Alayya
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan diriku atau disesatkan orang lain, dari ketergelinciran diriku atau digelincirkan orang lain, dari menzhalimi diriku atau dizhalimi orang lain, dari berbuat bodoh atau dijahilkan orang lain.”

Subhanallah….
Ternyata begitulah cara suami meninggalkan istrinya di rumah. Sungguh indah, penuh kesan.
Mencium dan mendoakan. Mudah dan sederhana, tapi dalam maknanya.
Kita tidak pernah tahu kapan ajal menjemput. Sebagaimana kita tahu, melepas suami pergi bekerja itu adalah sama dengan melepas suami pergi berjihad.
Apakah kenangan saling berteriak itu yang ingin kita kenang dalam melepas kepergian suami? Atau kenangan suami “hilang” begitu saja tanpa pamit? Tentu tidak. Sepanjang sisa hari, sang istri akan teringat ciuman di kening yang romantis… Ah… membayangkan saja sudah tersenyum.

Suami pun pergi tenang dengan membawa kenangan wangi rambut istrinya. Plus bonus senyuman terindah yang diberikan sang istri tercinta yang melepas kepergiannya di depan pintu rumah.
Dalam doa yang dipanjatkan, ada makna penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Menitipkan anggota keluarga yang dicintai hanya kepada Allah.  Memohon perlindungan bagi fitnah dunia yang mungkin terjadi.
Jadi  bagaimana, berani terima tantangan ini?
Suami: Cium kening dan doakan Istri tercinta…
Istri: Antarlah suami hingga ke pintu depan. Lepas kepergiannya dengan mengamini doanya dan berikan senyuman terindah.

Sumber: Parenting Nabawiyyah

Tips Agar Anak Taat & Rajin Salat

note for my future :)

1. Bangunkan Subuh sejak Balita.
Kebiasaan ini akan melekat sampai dewasa. Bila tidak, saat ini anda mengalami kesulitan membangunkan subuh remaja anda bukan?.

2. Bila anak anda belajar di Sekolah Umum (TK, SD, SMP & SMU).
Ikutkan mereka untuk mengikuti pelajaran agama di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), Sekolah Diniyah (sore) atau ikut Kajian Islam yang diselenggarakan Lembaga Dakwah atau Aktivis Masjid. Sebab dua (2) jam pelajaran agama di sekolah sangat tidak cukup untuk membentuk anak shaleh, tidak menyentuh materi ke-Islaman atau aqidah yang dapat dijadikan bekal hidupnya di masa datang yang semakin keras dan penuh tantangan.

3. Bila saat ini anda rutin melaksanakan Shalat Subuh berjamaah di Masjid, alhamdulillah.
Namun sayang kebanyakan orang tua “Egois”. Rajin berjamaah di Masjid, sementara anak dan isteri dibiarkan terlelap sampai matahari terbit. “Susah sih ngebanguninnya”, begitu alasan klasik yang mereka pegang. Disarankan mulai besok, coba sekali-kali shalat subuh berjamaah di rumah bersama anak & istri. Bangunkan satu persatu anggota keluarga dengan penuh kasih sayang. Maaf! jangan ada lagi kata-kata “Ah kasihan, masih kecil nanti ngantuk di sekolah” buanglah jauh-jauh alasan kuno tersebut. Dirikan shalat berjamaah di rumah, putera sulung laki-laki yang iqomah dan anda yang menjadi imam. Kemudian diikuti dengan wirid, dzikir do’a bersama. Dilanjutkan dengan membaca ayat suci Al-Qur’an yang disimak bersama, adakan interaktif tanya jawab, saling curhat antara satu dengan yang lainnya. Indah bukan? Bila sudah rutin bangun pagi, lalu ajak anak laki-laki anda ke Masjid dalam upaya menumbuhkan cinta masjid dan shalat berjamaah.

4. Hubungi Guru Ngaji, Wali Kelas dan Pembina Rohis di sekolah.
Minta kesediaannya agar menelepon putera anda secara dadakan 1s/d 2x sepekan, untuk membangun shalat subuh.

5. Sesekali ajak anak anda “piknik” ke rumah sakit.
Menengok orang sakit, melihat kamar mayat, mengantar jenazah ke Taman Pemakaman Umum (TPU) dan melihat memasukkan jenazah ke liang lahat. Ini penting, untuk mengingatkan bahwa hidup ini sementara, kita semua akan mati.

6. Sejak dini ajarkan kepada putera-puteri anda batasan aurat.
Insya Alloh nanti ketika telah baligh, kena taklif akan malu bila aurat mereka tersingkap, walaupun hanya sehelai rambut.

7. Bila putera-puteri anda mengadakan piknik atau tour bersama sekolah, jangan lupa mengingatkan mereka untuk membawa perlengkapan shalat.
Sebab Rasulullah saw berpesan kepada seluruh orang tua agar menyuruh putera-puterinya melaksanakan shalat, mulai usia 7 tahun. Atau mungkin pada suatu kesempatan anda mendapati sibungsu tertidur sebelum melaksankan shalat Isya. Setelah anda anggap telah cukup baginya tidur, bangunkan ia dengan lembut, bisikan kata-kata “Sayang belum Shalat Isya’ yah? Ayo papa antar berwudlu”. Interaksi ini insya Alloh akan berdampak positif bagi anak, “Oh, papa/mamaku care banget sama aku”.

8. Safari Masjid.
Sesekali ajak putera anda melaksanakan shalat berjamaah di Masjid Jami’[1] yang berbeda-beda di sekitar kota anda, disetiap pekannya. Di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi) saja terdapat lebih dari 3.000 Masjid Jami’. Targetkan dalam sebulan sekian Masjid Jami’ umpamanya. Manfaatnya adalah untuk menumbuhkan kecintaan anak terhadap masjid sejak dini. Maaf! Ke Dunia Fantasi, Taman Impian Jaya Ancol, Taman Safari, Kebun Binatang Ragunan dan tempat-tempat rekreasi lainnya yang ada di Jakarta dan tempat terkenal yang berada di seluruh wilayah Indonesia, bahkan tempat rekreasi di manca negara pun bagi kalangan berduit sudah sering dikunjungi. Tapi ke Masjid Istiqlal dan Masjid Al-Azhar belum pernah anda kunjungi. Atau bahkan mereka tidak pernah ingin tahu dan shalat di dalamnya, maaf!! Ini seharusnya jangan sampai terjadi pada diri seorang muslim.

9. Ajarkan langsung nilai-nilai ajaran Islam yang anda kuasai.
Mulai dari hal-hal yang sederhana. Ajari makan-minum dengan tangan kanan, mengucapkan basmalah sebelum melakukan kegiatan, bersikap sopan terhadap sesama, hormat terhadap yang lebih tua, menghormati tamu, jujur, biasakan bersedekah kepada pengemis dan orang miskin, memberi salam dan lain sebagainya.

10. Baca Al-Qur’an dan kitab hadits dengan terjemahannya.
Jelaskan kepada anak maksudnya sesuai tingkat pemahaman anak dan daya pikirnya.

11. Anda adalah “Teman Setia” anak anda.
Artinya anda harus siap mendengar setiap keluhan dan keluh-kesahnya, tempat curhat dan 
mencari solusi, jangan keras, kasar, sangar terhadap anak sehingga anak takut dan segan untuk berbagi kesulitan dengan anda, dikhawatirkan dia akan mencari solusi dari luar, teman sepermainannya yang bisa menjerumuskannya ke lembah narkoba. Naudzubillah

12. Buat anda yang masih doyan nonton Televisi (TV).
Bikin kesepakatan kapan dan acara apa yang pantas ditonton oleh orang dewasa dan anak. Jangan sampai siibu lebih tahu acara sinetron dari pada Pekerjaan Rumah (PR) anaknya di sekolah. Bahkan yang lebih konyol karena siibu saking maniak dengan acara sinetron tertentu, anaknya dibiarkan tidak bikin PR malah diajaknonton bareng. Ini jangan sampai terjadi. Ketahuilah bahwa madharat dari acara televisi lebih banyak dari pada manfaatnya, jangankan acara orang dewasa ditonton anak-anak, film anak-anak pun banyak yang tidak layak ditonton oleh anak-anak itu sendiri karena tema yang disampaikan adalah tema untuk 17 tahun ke atas, porno, dan merusak akhlak.

13. Biasakan Sahur Bareng.
Untuk puasa sunah Senin-Kamis, atau puasa tengah bulan Islam tiap tanggal 13, 14, 15 dan sesekali Shalat Tahajud bersama.

14. Hiasi rumah Anda dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an.
Setelah menunaikan Shalat Maghrib, anda atau salah seorang keluarga anda membaca Al-Qur’an dengan nyaring. Atau perdengarkan bacaan Al-Qur’an dengan memuatar CD murottal, atau ceramah Islam yang penuh manfaat.

15. Ciptakan kehangatan Silaturahim dalam keluarga.
Jangan karena sibuk di kantor atau di tempat kerja anda tidak punya waktu untuk bersilaturahim, karena begitu gigihnya anda mencari harta. Maaf! Tapi kenapa anda tidak “ngotot” mendidik anak agar menjadi shalih. Tidak inginkah kelak anak anda yang shaleh yang memasukkan anda ke liang lahat, dia yang memimpin shalat jenazah dilanjutkan dengan permohonan maaf kepada Alloh untuk anda, sehingga karenanya anda mendapat pertolongan dan keselamatan dari azab Alloh. 

16. Hati-hati dengan propaganda Barat (Yahudi & Nasrani).
Begitu bernafsunya mereka untuk merusak moral dan akhlak generasi Islam. Mengapa anda tidak memiliki semangat seperti mereka dalam membentuk anak shaleh.

17. Khatimah.
Ingat sampaikan semua point-point di atas dengan bijak, sabar, ikhlas, jangan bosan! Sebab Alloh-lah yang memberi taufik dan hidayah (petunjuk), kita hanya berusaha dan ikhtiar dengan menyampaikan.
Sumber: Lembaran Sabila Akhbar


Monday, May 19, 2014

Sekuat apakah kita ?

Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah

"Setiap kita akan senantiasa diuji oleh Allah SWT pada titik-titik kelemahan kita.

Orang yang lemah dalam urusan uang namun kuat terhadap fitnah jabatan dan wanita
tidak akan pernah diuji dengan wanita atau jabatan.

Tetapi orang yang lemah dalam urusan wanita namun kuat dalam urusan uang
tidak akan pernah diuji dengan masalah keuangan.

Orang yang mudah tersinggung dan gampang marah akan senantiasa dipertemukan oleh Allah dengan orang yang akan membuatnya tersinggung dan marah sampai ia
bisa memperbaiki titik kelemahannya itu sehingga menjadi tidak mudah tersinggung dan tidak pemarah.

Orang yang selalu berlambat-lambat menghadiri pertemuan forum dakwah karena alasan istri, anak, mertua, atau tamu akan senantiasa dipertemukan dengan perkara ‘mertua datang,
tamu datang silih berganti’ di saat ia akan berangkat .. terus begitu sampai ia memilih prioritas bagi aktivitasnya apakah kepada dakwah atau kepada perkara-perkara lain.

Kita semua harus memahami dan mengatasi segala kelemahan diri di jalan dakwah ini. Ingatlah, mushaf Al-Quran tidak akan pernah terbang sendiri kemudian datang dan
memukuli orang-orang yang bermaksiat.

Sungguh teramat merugi...mereka yang mengikuti hawa nafsu kemudian pergi meninggalkan kebersamaan dlm dakwah ilallah, tanpa mau bersabar sebentar dalam ujian keimanan. Tanpa mau mencoba bertahan sebentar dalam dekapan ukhuwah..​
Dan sungguh, kecewa itu biasa dan manusiawi. Yang luar biasa, siapa saja yang mampu beristighfar lalu berlapang dada serta bertawakkal pada-Nya.​ ​
Memang...​ ​ Dakwah ini berat...karenanya ia hanya mampu dipikul oleh mereka yang memiliki hati sekuat baja..

memiliki kesabaran lebih panjang dari usianya.
Memiliki kekuatan yang berlipat.
Memiliki keihklasan dalam beramal yang meninggi.
Memiliki ketabahan seluas lautan, memiliki keyakinan sekokoh pegunungan.​ ​
Siapapun takan pernah bisa bertahan...melalui jalan dakwah ini...mengarungi jalan perjuangan...kecuali dengan KESABARAN!!!​
Karenanya...​ Tetaplah disini...dijalan ini...bersama kafilah dakwah ini. Seberat apapun perjalanan yang harus ditempuh...sebesar apapun pengorbanan untuk menebusnya...tetaplah disini...
Buanglah hawa nafsu dalam mengarungi perjalanannya, karena telah banyak yang bergugugran karenanya. Gandenglah selalu iman kemana saja kita melangkah, karena iman akan menjagamu setiap waktu.​ ​ Seburuk apapun, sekeruh apapun kondisi kapal
layar kita, jangan lah sekali2 mencoba untuk keluar dari kapal layar ini dan memutuskan berenang
seorang diri...karena pasti kau akan kelelahan dan memutuskan menghentikan langkah yang pada akhirnya tenggelam disamudra kehidupan...​
Jika bersama dakwah saja...kau serapuh itu...bagaimana mungkin dengan seorang diri ? Sekuat apa kau jika seorang diri...???"

Wednesday, May 14, 2014

Lelaki Sholeh Belum Tentu Suami yang Sholeh dan Tepat~

mengutip dari blog tetangga mengenai jodoh :)
smoga bisa buat masukan ke depan ...

Di program acara Islam Corner Radio Madina FM – radio Masjid Agung Jami’ Malang, saya pernah mendapatkan pertanyaan seperti ini: “Mau tanya, bagaimana menentukan laki-laki yang bisa jadi kepala rumah tangga setelah menikah nanti? Terima kasih.”

Pertanyaan senada, meski agak berbeda, saya terima di ponsel. Bunyinya – setelah saya edit format tulisan ala SMS yang banyak singkatannya, “Assalamu’alaikum. Kami mau tanya, sebenarnya aku sudah berkeluarga tapi aku suka atau kagum sama orang yang pintar mengaji, terimakasih.”

Saya sudah kasih jawaban melalui SMS juga pada si penanya. Kurang lebih, “Kagumi ilmu, mengaji dan amaliahnya, untuk ditiru. Bukan kagum dalam hal lain untuk tujuan lain.”

Saudari penanya membalas, “Jujur pernah muncul di hati seandainya aku punya imam seperti itu, yang bisa mendidikku tentang ilmu agama yang lebih dalam. Betapa tenangnya hati ini.”

Mendapatkan dua pertanyaan dari dua penanya yang berbeda itu, saya punya kesimpulan, seorang wanita pastinya mengharapkan seorang lelaki shalih untuk menjadi suaminya. Hal ini tentu baik. Namun, ketika dia sudah mendapatkan seorang suami, apakah masih pantas dia membayangkan lelaki lain untuk menjadi suaminya, meski dengan alasan lelaki lain itu – menurut pandangan pribadinya – lebih baik dari suaminya? Kita khawatir perasaan seperti ini akan menjadikan seseorang tidak mengalah pada takdirnya, setelah sebelumnya dia sudah berikhtiar.

Saya ingin menuliskan inti jawaban untuk kedua pertanyaan tersebut di sini, untuk berbagi dengan yang lain. Semoga bermanfaat.

Nabi Muhammad, dalam hidupnya, juga sering menjadi tukang jodoh. Banyak riwayat yang menjelaskan hal itu, misalnya kisah perjodohan Julaibib dan lainnya. Nah, setelah mengamati apa yang dilakukan Nabi, berikut keterangan-keterangan dalam agama, kita sampai pada satu kesimpulan, ternyata dalam penilaian Nabi, lelaki shalih itu belum tentu menjadi suami shalih. Dengan ujaran lain, tidak semua lelaki baik, dapat menjadi suami yang baik!

Suami shalih, maknanya lebih luas dari pada lelaki shalih. Lelaki shalih adalah orang yang selalu melaksanakan perintah Allah baik lahir maupun batin. Misalnya, ia selalu berjama’ah di masjid, perilaku dan tutur katanya islami, meninggalkan hal-hal yang haram. Namun, dalam memberikan penilaian tentang siapa lelaki shalih itu, yang bisa kita lakukan hanya dari sisi lahiriahnya.

Secara lahiriah seseorang dapat dinilai sebagai orang beragama. Namun bisa saja dia ternyata tipe orang yang mudah marah, sering menghina dan merendahkan orang, ucapannya pahit, dan sebagainya. Hal ini tentu dapat menganggu ketenangan dan kebahagiaan rumah tangga.

Saya tandaskan pada saudari penanya, seseorang kelihatannya beragama dan berakhlaq baik. Namun ia memiliki beberapa sifat yang tidak cocok bagi Anda. Sebaliknya, justru ia cocok untuk orang lain, bukan untuk Anda.

Misalnya, lelaki itu bawaannya serius, sangat pendiam, melankonis, sulit tertawa, memiliki pergaulan sosial terbatas. Sedang Anda memiliki karakter sebaliknya: seorang sosialita, aktifis muslimah yang senang bergaul dengan yang lain, suka humor, dan sebagainya.

Saya tidak mengatakan sifat lelaki tersebut jelek. Namun sifat itu bagi Anda yang memiliki sifat yang saya contohkan tadi, bisa membuat Anda kurang nyaman dalam mengarungi rumah tangga.

Karena itulah, Nabi mengatakan (yang artinya): “Jika datang padamu lelaki yang kau ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika tak kau lakukan, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang panjang.” (HR Turmudzi dan Ibnu Majah)

Perhatikan, Nabi tidak mengatakan “Jika datang padamu lelaki beragama dan akhlaknya baik”. Namun Nabi mengatakan, “Jika datang padamu lelaki yang kau ridhai agama dan perangainya”.

Apa bedanya?

Pernyataan pertama – dan itu tidak diucapkan Nabi – bermakna, orang tua harus menikahkan anaknya dengan lelaki shalih, dan bahwa lelaki shalih itu pasti akan menjadi suami shalih. Namun pernyataan kedua – yang diucapkan Nabi – memberikan pengertian pada kita bahwa orang tua dalam memilih calon menantu, syaratnya harus ridha terhadap agama dan perangainya, karena memang tidak semua lelaki shalih, kau setujui cara beragama dan perangainya. Jadi, ada unsur penilaian manusia di sini. Sedang penilaian manusia itu hanya terbatas pada sesuatu yang lahiriah atau yang tampak.

Kisah Fathimah binti Qays akan menjelaskan hal ini. Suatu saat, ia dilamar dua lelaki. Tak tanggung tanggung, yang melamar beliau adalah dua pembesar sahabat, yaitu Mu’awiyah dan Abu al-Jahm. Setelah dikonsultasikan kepada Rasulullah, apa yang terjadi? Nabi menjelaskan, baik Mu’awiyah maupun Abu al-Jahm, tidak cocok untuk menjadi suami Fathimah binti Qays.

Apa yang kurang dari Mu’awiyah dan Abu al-Jahm? Padahal keduanya adalah lelaki shalih dan memiliki keyakinan agama yang baik. Namun Nabi tidak menjodohkan Fathimah dengan salah satu dari keduanya, karena Nabi mengetahui karakter Fathimah, juga karakter Mu’awiyah dan Abu al-Jahm.

Lebih lanjut, Nabi menawarkan agar Fathimah menikah dengan Usamah bin Zaid, seorang sahabat yang sebelumnya tidak masuk “nominasi” Fathimah. Setelah Fathimah menikah dengan pilihan Nabi itu, apa yang dikatakannya setelah itu? Fathimah mengatakan, “Allah melimpahkan kebaikan yang banyak pada pernikahan ini dan aku dapat mengambil manfaat yang baik darinya.”

Jadi, kepala rumah tangga yang ideal bagi Anda dan seluruh wanita muslimah adalah: Pertama, lelaki shalih. Kedua, memiliki perangai yang sesuai dengan karakter Anda, dan ini nisbi atau relatif, yang tidak mungkin bisa dijawab kecuali oleh Anda sendiri.

Keshalihan seorang lelaki memang menjadi syarat bagi wanita yang ingin menikah. Namun, itu saja tak cukup. Perlu dilihat kemudian munasabah (kesesuaian gaya hidup, meski tak harus sama), musyakalah (kesesuaian kesenangan, meski tak harus sama), muwafaqah (kesesuaian tabiat dan kebiasaan). Sekali lagi, aspek kedua ini sifatnya relatif, tidak bisa dijawab kecuali oleh wanita yang akan menikah dan keluarganya. Oleh karena itu, kalau ada yang datang melamar, tanyakanlah karakter dan perangainya pada orang-orang yang mengetahuinya, baik dari kalangan keluarga atau teman-temannya.

Terakhir, bagi yang belum menikah dan sedang “mencari jodoh”, agama mensyari’atkan adanya musyawarah dan istikharah. Lakukanlah keduanya! Sementara bagi yang sudah menikah, terimalah keberadaan suami Anda apa adanya, karena menikah itu “satu paket”: paket kelebihan dan paket kekurangan dari pasangan. Tinggal bagaimana Anda menyikapi kelebihan dan kekurangan itu. Orang bijak menyikapi kelebihan dengan syukur, menyikapi kekurangan dengan sabar. Orang bijak itu “pandai mengubah kotoran yang tidak bermanfaat menjadi pupuk yang bermanfaat”.

Sesuatu yang baik dari suami, ajaklah dia untuk makin meningkatkannya. Sedang yang jelek darinya, bersama Anda, hilangkan dari lembar kehidupannya. Janganlah memikirkan lelaki lain. Karena boleh jadi lelaki lain itu dalam pandangan Anda baik, namun ternyata ia tak baik dan tak cocok untuk menjadi suami Anda.

Boleh jadi Anda melihat sepasang suami istri yang hidupnya bahagia. Lalu, Anda berkhayal seandainya lelaki itu yang menjadi suami Anda, pasti hidup Anda akan bahagia. Wah, itu belum tentu. Karena ternyata, bisa jadi lelaki itu memang cocok untuk perempuan yang sekarang menjadi istrinya, namun tidak sesuai bila menjadi suami Anda.

Satu yang pasti, percayalah bahwa pasangan hidup Anda adalah manusia terbaik yang diberikan Allah untuk Anda!

Oleh : Ustadz Faris Khairul Anam

Friday, May 9, 2014

Perempuan dengan sosok sempurnanya


Perempuan yang cerdas dan pandai akan lebih banyak membawa manfaat, tidak hanya bagi keluarganya namun juga bagi umat (sekitarnya).
Contoh kecil saja, jika perempuan hanya terkungkung pada stigma-stigma yang tidak memberdayakan, bagaimana kelak jika ia menikah dan mempunyai seorang anak, kemudian ia tidak tahu bagaimana mendidik anaknya sesuai dengan zamannya?
Bagaimana menyampaikan hal yang positif bagi anaknya? Belum lagi bagaimana pula jika sang suami tiba-tiba di PHK, meninggal atau terkena musibah lain yang membuat suami jadi tidak bias produktif kembali?.

Jika perempuan tidak cerdas dan pandai maka sudah dapat di bayangkan akan seperti apa keadaan keluarganya. Namun jika si perempuan adalah seorang yang cerdas dan pandai, maka insyaAllah ia akan menjadi pelengkap yang luar biasa bagi anak dan suami nya kelak, bahkan dalam kondisi tidak baik sekalipun.
Saya cukup mengerti, mungkin saja stigma lain yang juga berkembang di masyarakat adalah, jika perempuan cerdas dan pintar akan careless terhadap rumah tangga dan keluarganya.
Nah, inilah tantangan bagi para perempuan, terutama muslimah, untuk bagaimana tetap bisa mempertanggung jawabkan kodratnya. Tidak ada larangan untuk menuntut ilmu setinggi mungkin dan merengkuh cita-cita bahkan impian sekalipun, namun yang perlu diingat adalah tanggung jawab terhadap keluarga dan rumah tangga kelak jangan sampai terabaikan.

Contoh yang luar biasa adalah sosok seorang Khadijah dan juga Aisyah. Dua orang wanita yang pintarnya luar biasa. Khadijah seorang entrepreneur wanita yang sangat sukses, namun tetap menyadari kodratnya sebagai seorang istri Muhammad dan juga ibu bagi anak-anaknya.
Tidak kalah dengan Khadijah, sosok Aisyah, yang dikatakan dalam salah satu buku “Ensiklopedi Leadership & Manajemen Muhammad SAW : Edisi Membina Keluarga Harmonis ala Rasulullah” bahwa kepintaran Aisyah sangat luar biasa. Bahkan ada salah satu hadis mengatakan bahwa kepintaran Aisyah di ibaratkan dengan gabungan kepintaran seluruh wanita di dunia.
Bisa dibayangkan betapa pintarnya sosok Aisyah. Namun disisi lain betapapun pintarnya Aisyah, ia tahu betul bagaimana kodratnya sebagai istri.

Dan ingat, setinggi apapun ilmu Anda duhai para perempuan, Anda tetaplah seorang makmum bagi suami anda, jadi tetaplah menjadi istri dan ibu yang bijak, baik serta pelengkap yang menyempurnakan bagi suami dan anak-anak Anda kelak.
ibuk sama bapak  sering ngingetin juga, hoka harus berpendidikan, pintar dalam hal apapun (multitasking), pandai menempatkan diri, dan wajib patuh hormat sayang suami.. sepandai pandainya kamu nduk, harus bs masak dan melayani suami dengan tulus hati .. aamiin, i will :)

Thursday, May 8, 2014

noted parenting

catatan yang bagi saya sekarang mungkin belum seberapa penting, tp Insha Allah bila diberi amanah untuk menjadi orang tua nantinya catatan ini akan sangat membantu :)
Sistem pendidikan Indonesia memang buruk sekali. Tapi bila ortu tetap memilih menyekolahkan anak, pesan saya, jangan tambah anak tekanan di rumah. Di sekolah, anak sudah sangat tertekan, jadi ketika pulang, usahakan semaksimal mungkin agar anak nyaman, tidak dibebani hal-hal yang membuatnya semakin tertekan.
Perhatikan bahasa tubuh anak kalau ibu ingin bicara. Kalau dia terlihat lelah atau gundah, jangan langsung ditanya-tanya dulu. Ketika anak pulang sekolah, lelah, jangan bombardir dengan omelan. Peluk dan ciumlah dia. Yakinkan dia, bahwa dia anak istimewa buat ortu dan akan selalu dicintai. Buat hatinya tenang dan senang dulu. Setelah istirahat, suasana hatinya baik, barulah ajak ngobrol serius.
Misal, anak pulang telat. Ibu jangan langsung bentak dan marah-marah. Tunggu dulu sampai semua nyaman, anak kenyang makan, tidur sebentar, baru sampaikan baik-baik betapa ibu tadi khawatir karena anak pulang telat, lalu diskusikan dan bikin perjanjian agar tidak terulang lagi.
*dan orang tua tak perlu  takut atau marah-marah jika hasil ujian anaknya buruk, mungkin dia memiliki keunggulan lain.. sabar dan terus gali potensi anak, yang terpenting attitude si kecil harus benar-benar ditanamkan saat balita, karena merupakan base to build character.