Friday, May 8, 2015

Ibu, Bersabarlah. Suatu Saat Nanti Aku Pasti Akan Membawa Pria Pilihanku untuk Meminta Restu Padamu


Berbicara soal jodoh memang tak ada yang tahu ya, Bu. Jodoh itu — kata orang-orang yang sudah menemukannya — memang suatu misteri terbesar dunia. Ibuku sayang, aku tahu semakin hari ibu semakin khawatir padaku. Di usiaku yang semakin matang ini, aku masih saja betah melajang. Setiap kali kita sarapan dan makan malam bersama, ibu tak pernah lupa menyinggungku tentang pernikahan.
Aku tahu ibu mulai resah dengan masa depanku. Aku tahu ibu dan ayah ingin sekali segera menggelar pesta hajatan pernikahanku. Iya Bu, aku pun juga ingin membawa lelaki pilihanku yang akan jadi penggenap imanku kelak ke hadapan ayah dan ibu. Tapi sayangnya bukan sekarang, Bu. Maukah ibu bersabar menunggu momen bahagia itu? Bersabarlah sebentar ya Bu, pasti suatu saat nanti aku akan menikah dengan pria pilihan hatiku yang juga kau restui.


Aku belum ingin menikah bukan karena aku sedang menutup diri, Bu. Hanya saja, aku belum menemukan lelaki tepat yang bisa menjadi imamku.

Hanya saja aku masih belum menemukan laki-laki yang tepat, Bu. 
Aku masih muda ‘kan ibu? Ada banyak hal yang ingin aku rasakan, satu per satu ingin kuwujudkan cita-citaku. Bolehkah aku tidak memikirkan hal-hal yang berbau pernikahan dulu, Bu? Aku tahu Bu, dalam hatimu selalu ada keinginan untuk segera melihat kebahagiaanku, dan ibu berharap bisa sesegera mungkin aku bisa melihatku duduk berdampingan di pelaminan didampingi oleh lelaki yang tepat.
Lelaki tampan, bijaksana dan bertanggung jawab seperti ayah, yang sampai sekarang tidak pernah lelah menjadi pelindung kita. Aku mengerti keresahan hati ibu. Melihat teman-temanku sudah mempunyai pendamping hidup. Melihat teman-teman ibu sudah menggendong cucu, dan ibu masih selalu tersenyum dengan tulusnya ketika aku cerita kalau aku gagal lagi membina sebuah hubungan.
Bukan berarti aku egois dengan apa yang terjadi padaku, Ibuku sayang. Tapi maukah ibu menunggu sebentar? Aku tak ingin gegabah mengambil keputusan untuk menikah. Aku tak ingin terburu-buru menikah karena melihat satu per satu teman-temanku sudah menikah, dan aku memang belum menemukan sosok lelaki yang bisa menjadi imamku kelak. Tak usah Ibu khawatir. Percayalah Bu, bahwa kelak akan ada lelaki hebat yang akan kukenalkan pada Ibu.



Lagipula, aku masih ingin menikmati kegilaanku bersama sahabat-sahabatku. Bolehkah jika aku masih ingin berpuas-puas menikmati masa lajangku ini, Bu?

aku masih ingin menikmati kegilaan bersama teman-temanku. 
Sahabat bagiku adalah orang-orang yang selalu menghiburku baik di kala duka maupun suka. Tapi tenang saja Bu, Ibu tetap nomor satu dari sekian banyak hal yang menjadi alasan aku untuk bahagia. Karena itulah Bu, aku meminta izin padamu, bolehkah aku punya waktu lebih lama yang kuhabiskan bersama teman-teman? Setiap aku bersama mereka, sejenak aku bisa melupakan keletihanku karena kegiatan yang banyak menyita waktu.
Jangan kau marah Ibu, karena sesungguhnya waktu yang kuhabiskan bersama mereka tak sebanding dengan waktu yang aku habiskan bersama Ibu. Ibu selalu menegurku saat aku lupa waktu karena terlalu banyak menghabiskan waktu bersama mereka. Sampai terkadang adu mulut dengan ibu jadi tidak terelakkan. Maafkan aku ibu, bukan berarti aku tidak menghormatimu. Aku tahu ibu melakukan semua ini karena ibu khawatir padaku.
Mungkin ibu khawatir dengan setiap waktu yang kuhabiskan dengan temanku hanya sia-sia belaka. Atau mungkin ibu juga khawatir aku “kebablasan” bergaul dengan teman-temanku. Tenang ibu, setiap kali aku mau melakukan sesuatu, tidak pernah sedetikpun aku melewatkan semua nasihat-nasihat Ibu.
Karena saat aku sudah menjadi istri nanti, aku tak lagi bisa sebebas ini, Bu. Aku sadari akan hal itu. Diam-diam aku memperhatikan para pengantin baru, aku mendengar cerita dari Ibu, tentang bagaimana menjadi seorang istri yang baik. Aku harus patuh dengan suamiku, aku harus mendahulukan kepentingan rumah tangggaku di atas keinginan pribadiku.
Saat aku menikah nanti, aku pasti masih bisa bertemu dan menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabatku, namun porsinya akan jauh lebih sedikit. Jika biasanya akau hanya butuh izin dari ibu dan ayah untuk bermain dengan sahaba-sahabatku, nantinya aku harus menunggu izin dari suamiku, dan pastinya aku juga harus memenuhi kewajibanku sebagai istri terlebih dahulu. Aku belum siap untuk itu, Bu.

Jangan resah jika ibu melihatku melakukan apapun seorang diri. Percayalah, anak gadismu ini sekarang sudah menjadi wanita tangguh yang mandiri.

Jangan resah bu, sekarang aku sudah mandiri 
Banyak yang bilang kalau aku itu wonder women lho, Bu. Tahu ‘kan Bu wonder women itu artinya apa? Itu julukan pada wanita hebat yang jarang mengeluh dengan setiap keadaan. Wanita yang kembali bangkit setiap kali jatuh.
Anak gadis ibu yang dulu ibu timang-timang, sekarang telah berubuah menjadi wanita tangguh dan mandri. Tenang bu, meskipun begitu aku tidak melupakan kodratku sebagai wanita kok. Aku tetap seorang wanita yang perlu tempat untuk berlindung. Seperti ibu yang berlindung disamping ayah.
Aku masih bisa pergi sendiri, makan sendiri, ke mall sendiri, bahkan yang paling ekstrim pergi ke kondangan teman juga sendirian. Dan sampai sekarang aku masih baik-baik saja kok, Bu.
Bukan berarti karena aku masih sendiri, aku tidak bisa melakukan banyak hal seperti pasangan-pasangan itu, Bu. Aku belajar mandiri berkat ibu ‘kan? Ibu dan ayah selalu mengajariku untuk menjadi perempuan hebat dan tangguh, tak mudah bergantung pada orang lain. Meskipun terkadang tidak jarang juga aku menangis di hadapanmu, tapi bukan berarti aku lemah bu, itu karena bagiku engkau tempat aku mencurahkan semuanya.
Tak kupungkiri, aku pun mendambakan seorang pendamping yang bisa menjadi penopangku nanti bu. Aku pun ingin memiliki pendamping yang bisa menjadi tempat berbagi hati, cerita, suka, dan duka. Tapi aku masih ingin menikmati kemandirianku sejenak, bu. Tak salah ‘kan jika aku ingin merasakan hidup sebagai perempuan yang mandiri?

Sungguh aku pun ingin membina keluarga dan menjadi ibu rumah tangga yang baik. Namun, aku juga masih ingin menggeluti karir yang selama ini aku impikan, Bu.

Aku juga tidak ingin berakhir menjadi wanita karir yang lupa kapan aku harus mengakhiri masa lajang. Aku tidak berpikir seperti itu ibu, keinginan untuk membina rumah tangga dan menjad seorang ibu itu selalu tetap ada.
Tapi, pekerjaan ini seolah menghiburku. Pekerjaan ini menjadi pengalih perhatianku dari hal-hal semacam itu. Pekerjaanku memang belum bisa menjadikanku jutawan, tapi karena pekerjaan ini aku jadi berharga di mata ibu, keluarga, dan masyarakat. Pekerjaan ini adalah yang aku inginkan semenjak aku duduk di bangku kuliah dan mati-matian meraih gelar sarjanaku.
Maka, izinkan aku Bu untuk sejenak menggeluti lebih dalam lagi pekerjaanku ini. Aku ingin mengembangkan lagi kemampuanku, aku masih haus banyak pengalaman, dan aku masih ingin banyak berkarya lagi.Sedang pekerjaanku ni tak memungkinkan bagiku lagi jika aku harus menikah saat ini.
Meskipun penghasilannya tidak seberapa dan mungkin aku hanya bisa membelikan ibu dan ayah selembar kain batik, tapi aku merasa hidup sebagai manusia di tempat ini, Bu.. Maaf ya Ibu, aju belum bisa membelikan perhiasan mahal untukmu. Tunggulah sebentar lagi, mungkin aku bisa membelikannya untuk ibu. Asalkan ibu tidak selalu menanyakan kapan aku menikah, Hehehe…

Lagipula Bu, aku masih ingin bermanja-manja dan menghabiskan waktu bersamamu ibu. Sebelum nanti aku harus pergi meninggalkan rumah untuk ikut suami.

Aku masih ingin bermanja-manaj dengan ibu.
Ibu pasti tahu ‘kan kalau aku sudah menikah kemudian aku tidak lagi tinggal bersamamu lagi? Ibu juga pasti tahu kalau suatu saat nanti aku akan meninggalkan ibu dan ayah, dan pindah untuk bermukim mengikuti suami? Mungkin nanti aku akan berkunjung kerumah ibu satu minggu sekali, satu bulan sekali, atau bahkan satu tahun sekali ibu. Demi apapun, aku belum siap untuk menjalani hal itu, Bu.
Aku masih ingin menjadi putri kecil ibu yang merajuk manja di dalam pelukanmu. Aku masih ingin menjadi gadis kecil ibu yang diam-diam keluar malam untuk jajan kudapan malam di depan rumah. Aku masih ingin menikmati masakan ibu saat aku pulang. Aku masih ingin mendengar omelan-omelan ibu saat aku malas bersih-bersih rumah. Dan aku masih ingin merasakan hangatnya rumah ini lebih lama lagi, Bu.
Untuk itu, betapa aku masih ingin menghabiskan waktu bersama ibu dan ayah. Merawat engkau dan ayah selagi sakit, belajar memasak, belajar menjadi peran sepertimu di rumah kita yang sederhana ini. Ajari aku Bu sebelum nantinya aku beralih peran dari seorang gadis kecil yang manja menjadi seorang ibu sepertimu.

Janganlah resah ibuku, pasti suatu saat nanti aku akan menemukan sesosok lelaki bertanggung jawab yang kelak akan menggantikan tugasmu dan ayah dalam menjagaku.


Suatu hari nanti aku akan mengenalkan lelaki pilihanku padamu, Jangan khawatir, Bu. Dia jodohku pasti orang terbaik yang dipilihkan olehNya karena apa? Karena Tuhan tahu, bahwa orang terbaik yang menjagaku sampai sekarang adalah ayah dan ibu terbaik di dunia dan karena itulah Tuhan pasti mengirimkan seseorang terbaik juga.
Jangan pula khawatir aku akan jadi perawan tua, Bu. Aku percaya jika aku akan bertemu dengan jodohku nanti di waktu dan momen yang tepat. Bukan terburu-buru ataupun terlambat, kapanpun itu aku percaya bahwa itu adalah rencana yang telah diatur oleh Sang Maha Kuasa.
Jangan khawatir dengan bisik-bisik tetangga, tentang aku yang saat ini belum juga juga menikah, Bu. Jodohku bukan di tangan mereka,  pun bukan mereka yang akan menjalani rumah tanggaku nanti. Percayalah Bu, diam-diam aku pun sedang memantaskan diri. Diam-diam aku sedang mempersiapkan diri dan juga berusaha lewat doa-doa yang selalu kulantunkan di setiap sujudku pada-Nya. Tak usah ibu khawatir, karena suatu hari nanti aku akan memperkenalkan lelaki pilihanku, yang terbaik, yang akan menggantikan tugasmu untuk menjagaku.



( REPOST from http://www.hipwee.com/daripembaca/ibu-bersabarlah-suatu-saat-nanti-aku-pasti-akan-membawa-pria-pilihanku-untuk-meminta-restu-padamu/ )
by: Asih Setiani

Tuesday, May 5, 2015

5 Mei Bersama Bapak....

Rabu, 5 - 5 - 2015

Masih teringat betul saat kamis malam jumat tanggal 5 - 5 - 2011 jam 23.40
di Rumah Sakit Angkatan Laut Surabaya...
Berdua dengan ibuk menemani bapak dalam sakarotul mautnya,
tanpa tangisan, tanpa rengekan, tanpa firasat buruk, hanya lantunan asma Allah yang terucap sambil memandangi beliau.... masih penuh harap bapak mampu bangkit dari kankernya, namun Innalillahi wainnaillahi rojiun... tarikan nafas panjang nampak jelas dan setelah itu pembuluh darah di leher bapak yang tadinya berdenyut seketika berhenti .. Ya kami sangat sayang bapak,  namun Allah sangat-sangat sayang beliau.

Seorang sosok yang sangaaaaaaat protective pada istri dan anak-anaknya, banyak sekali larangan dan aturan, keras dan kolot heheheh namun selalu memberikan pendidikan dan edukasi attitude serta agama yang baik untuk anaknya... Selalu memaksa kami untuk bekerja keras, jarang memanjakan anak-anaknya meskipun saya anak cewek sendiri dan bungsu di keluarga juga tetep perlakuannya, model baju modis yang dibilang bapak aneh-aneh juga sering dilarang, nginep-nginep di rumah teman atau maen-maen sampe malem gak boleh, pacaran gak boleh *garis keras* wkwkwk tapi  bapak selalu kasik kebebasan dan mendorong anak-anaknya untuk maju berkembang, untuk mengikuti banyak organisasi atau komunitas atau ketrampilan apapun yang bermanfaat.. Waktu masih jaman labil sih sering banget nggondok sama sikap bapak yang unik dan berbeda dengan orang tua teman-teman saya. Tapi saat menginjak dewasa, saya sadar itu semua tanda sayang bapak kepada kami, hanya saja caranya yang unik dan menjengkelkan itu tadi cukup buat menghelas nafas dan ngomel-ngomel hehhehe :)
Terimakasi bapak, mampu menjadikan hoka seorang gadis yang kuat tanpa sering merengek. Menjadikan hoka yang sering takut dosa kalo berbuat dosa (meskipun kadang-kadang khilaf hhuhuu), mampu menjadikan hoka yang disiplin (kadang-kadang juga mbeleset sih) dan mudah beradaptasi di lingkungan baru, mampu menjadikan hoka gadis dari keluarga sederhana yang mudah membawa diri dan gak malu-maluin jika bertemu di tempat mewah bersama orang-orang menengah ke atas, mampu menjadikan hoka tetap nyaman ngobrol panjang lebar dengan ramah bersama kumpulan masyarakat menegah ke bawah di emperan sekalipun, keep humble dan gak boleh pilih-pilih temen, selalu jaga silahturahmi terutama sama orang2 tua, mengerti balas budi, selalu mau kerja keras dengan usahanya sendiri, disuruh jualan, disuruh banyak nanya-nanya, disuruh naik pohon, disuruh hadooh banyak dan kadang malu males gengsi juga mau dilakuin, tapi ujung-ujungnya pasti dilakuin, karena bapak selalu berkali-kali bilang kalo saya dan mas-mas saya malu atau gak mau nyoba melakukan sesuatu "Ngapain maluuu?? malu itu klo kamu nyuri" ato "Apa yang gak bisa?? semua itu bisa kalo mau nyoba" dengan nada kerasnya hehehe SIAAAP BOS !! Dan banyaaaak lagi yang sangat berkontribusi dalam pembentukan karakter saya..

Peluk eret dengan doa yang tulus dari gadis kecilmu ini, smoga Allah mempertemukan kita di jannah bersama ibu, mas, dan keluarga lainnya.. Aamiin Allahumma Aamin

*foto disamping kiri saat masih lumayan sehat, msh berisi.. waktu kritis udah bnr2 cuma tulang sama kulit :(


Surabaya, 5 Mei 2015

- hoka rahayu-

Friday, December 5, 2014

Save The Best For The Last.. Bersabarlah menanti, sembari memantaskan diri :)

Aku pernah mencoba dengan dia yang salah. Kau pernah gagal menjelajahi labirin hatinya sampai kehilangan arah.
Tapi bukankah setiap pagi selalu menawarkan kesempatan baru? Bukankah setiap orang berhak atas perjalanan yang lebih menjanjikan untuk dijalani kemudian?
Demimu, aku rela menunggu. Demi kau, aku bersabar dan berjibaku demi memantaskan diriku.”

Hey kamu, yang juga sedang berjuang menahan diri


Untukmu yang sedang berjuang menahan diri,
Apa kabar dirimu? Jika bisa, rasanya ingin kutawarkan tempat duduk di sisiku khusus untukmu. Ingin kupandang wajahmu lekat-lekat lalu bertanya,

“Beratkah hari-harimu belakangan ini? Cukup menyenangkan kah pekerjaan yang sedang kau jalani? Atau kau masih berkutat dengan teori dan buku yang membuatmu terjaga sampai dini hari?”
Harapanku, semoga kamu dan kehidupanmu di sana berjalan mulus tanpa gangguan yang berarti. Doaku tak putus-putus untukmu, kukirim dari sini.
Seandainya sekarang kita sudah bisa berjumpa, ingin kuceritakan semua rasa yang sudah sekian lama mengendap di udara. Melihat kuatnya hasratku bercerita, tampaknya kelak pertemuan kita akan lebih mirip reuni dua sahabat lama dibanding pertemuan dua orang yang sedang dimabuk cinta.
Sampai hari itu tiba, kumohon tabahkan dirimu. Semesta sedang berjingkat mengurus pertemuan kita di satu masa paling sempurna. Yakinlah ia akan segera ada di hadapan mata.


Padamu, yang kuyakini telah ditakdirkan namun tetap perlu diperjuangkan

Kamu memang telah ditakdirkan, namun tetap butuh diperjuangkan. Kita adalah dua manusia yang sebenarnya berjuang di arena pertarungan serupa, hanya saja dari dua tempat berbeda. Kau berjuang menjaga mata, aku di sini mencoba sekuat tenaga membentengi hati sampai kau tiba.
Beragam godaan itu tetap ada. Mulai dari ajakan nonton, makan bersama, sampai tawaran diantar pulang ketika waktu sudah kian malam. Sebagai manusia biasa, kadang aku tergoda. Iri rasanya melihat rekan-rekan sejawat tampak punya pasangan yang selalu bisa diandalkan. Sedang aku, harus sabar menghadapi dunia seorang diri sembari menunggumu datang.
Maka Sayang, jangan pula kau keluhkan keterbatasanmu. Memang benar, kau sering diejek tidak laki-laki karena tak kunjung menyampaikan perasaanmu. Tak jarang juga kau diberi label “jomblo abadi” sebab hidupmu nihil wanita yang mendampingi. Sesekali merasa tak nyaman itu wajar, tapi jangan pernah menyalahkan orang-orang di sekitarmu dan mengutuk keadaan. Mereka hanya belum paham apa yang sesungguhnya sedang kita perjuangkan.
Bukan penjelasan panjang lebar yang bisa menyelamatkan. Orang-orang itu hanya butuh melihat kegigihan dan keyakinan kita:

Bahwa semua perasaan yang belum kita luapkan ini akan menemui muaranya. Menjumpai akhir yang kita tunggu sebagai pesta perayaan. Jika menahan diri untuk tidak membuka hati pada sembarang orang adalah puasa, berjumpa denganmu jadi momen berbuka yang telah ditunggu sekian lama.
Saat pertemuan itu terjadi, kita akan saling menatap dengan penuh isyarat. Mata kita bertaut merayakan kemenangan. Kita dua orang yang sama-sama keras kepala berjuang demi akhir yang sebenarnya belum bisa diperkirakan. Kita, sepasang cinta yang dipertemukan tanpa proses pendekatan. Kau dan aku, sepasang manusia yang lekat tanpa pernah harus berpelukan.

Tak perlu khawatir, Sayang. Seburuk apapun dirimu, tangan ini akan tetap terbuka. Dulu, aku pun pernah jadi versi brengsek dari seorang manusia


Seburuk apapun dirimu, kau akan tetap kuterima.
Datanglah padaku dengan apa adanya. Kau tak perlu harus sangat kaya raya, rupawan, atau punya kesabaran tanpa batasan demi menjadikanku pasangan. Sungguh, versi ideal macam itu tak begitu penting di mataku. Aku pun tak akan repot bertanya berapa banyak hati yang sempat kau lewati sebelum diriku. Buat apa? Toh tanpa mereka, kau yang sebaik hari ini juga tak akan ada. Walau kadang cemburu, aku akan berusaha sekuat mungkin untuk berdamai dengan masa lalumu.
Bagiku, cukuplah kamu yang muncul di depan pintu sembari berkata,

“Aku sudah selesai dengan diriku. Sekarang aku ingin menjalani hidup bersamamu.”, kata-kata sederhana macam ini sudah bisa melelehkan hatiku.
Aku juga bukan manusia sempurna. Dulu, aku sempat menjelma jadi versi brengsek seorang manusia. Aku pernah menyakiti orang-orang yang menyayangiku tanpa syarat. Aku pernah melakukan kebodohan dengan menyerahkan hati pada orang yang salah. Dalam beberapa kesempatan, air mataku sempat menetes karena menangisi kehilangan yang serasa seperti kiamat.
Kau bisa menemukan tweets dan status Facebook-ku yang penuh kata-kata puitis nan galau. Jika menggali postingan lama blog-ku akan kau temukan aku yang sempat mencintai orang lain sedalam itu. Tak perlu cemburu. Aku yang kini sudah selesai dengan romantisme picisan macam itu.
Setelah mendengar ini, semoga kau tak kecewa. Aku hanya berharap kau melihatku sebagai orang yang pernah salah arah, tapi rela berjuang kembali ke jalan yang “benar” biarpun sampai harus berdarah-darah.

Bersabarlah. Hingga tiba hari di mana kita bisa berbagi rengkuh dan merayakan peluh tanpa perlu khawatir dosa


Bersabarlah sampai kita bisa merayakan kemesraan tanpa dosa.
Aku tahu pasti tak enak rasanya. Mengabaikan semua goda untuk punya pendamping sementara yang bisa diajak bercerita. Tak mengindahkan rasa butuh diusap sayang oleh seseorang setiap lelah datang. Mungkin gagal dan sakit memang membentuk kita jadi penyintas yang rela mengakrabi sepi. Atau bisa jadi, rasa lelah karena terus-terusan gagal menjadikan kita malas membuka hati demi yang dia yang tidak pasti.
Setiap rasa sepi dan sendiri itu menyeruak, selalu ingatlah. Kau tak sendiri. Kita sejatinya sedang bergumul di satu garis emosi.

Saat kau peluk gulingmu erat-erat, aku pun sedang sibuk berharap bisa tidur nyaman di atas bahumu cepat-cepat.
Waktu kamu merasa nelangsa karena makan seorang diri,  aku disini pun tak lebih baik nasibnya. Sembari menyendok salad penuh fetta cheese , aku berdoa semoga bisa segera bertemu kamu untuk punya agenda makan malam bersama yang penuh canda.
Demi kebersamaan sederhana macam itu, kau memaksaku makan malam penuh lemak di Rumah Makan Padang pun tak apa. Selama muka kepedasanmu bisa kutemukan di depan mata.
Jarimu berteriak butuh genggaman. Pinggangku menjerit ingin direngkuh saat menyeberang jalan. Kita berharap segera saling menemukan.

Tapi bukankah hal-hal baik selalu membutuhkan waktu tunggu? Antre dokter saja kita rela menanti berjam-jam. Memalukan ‘kan jika cinta justru kita harap datang tanpa proses panjang?
Akan tiba masa dimana kita bisa saling merengkuh, meluapkan kasih lewat peluh. Akan datang malam-malam hangat ketika kita bisa berbagi selimut berdua. Main petak umpet, lompat tali, bertanding uno dan adu main domino — atau sesederhana bercinta di bawah hangatnya kain penutup badan tanpa perlu lagi khawatir pada ancaman api neraka.
Berdua, kita menggenapkan hidup masing-masing. Berdua, kita rayakan surga dunia tanpa perlu lagi takut dosa.


Sampai hari itu datang, jangan lelah untuk terus berjuang. Meski tak bersisian, ketahuilah kau tak pernah sendirian


Bersabarlah, hingga kita bertemu di masa yang paling tepat.
Sebelum tiba waktunya kita ditakdirkan untuk saling menemukan, kau dan aku hanya harus menambah tabungan ketabahan.
Hidup terlalu singkat untuk terus-terusan mengeluhkan kesepian. Hatimu terlalu berharga jika diisi dengan kesibukan untuk mengurusi cinta yang hanya sementara.
Setiap kau merasa sendiri dan tak ada yang mendampingi, ingatlah padaku. Seseorang yang belum pernah kau temui. Manusia keras kepala yang kata orang punya imajinasi liar dan gila — karena rela mati-matian menjaga diri agar pantas menyandingmu yang entah kapan datangnya.
Tidakkah fakta ini harusnya membuatmu merasa punya rekan? Aku mendampingimu dalam diam. Barang sedetik pun, kau tak pernah sendirian.


Salam kecup jauh dariku,

Seseorang yang tak pernah lelah berjuang memantaskan diri untukmu

(REPOST from http://www.hipwee.com/hubungan/untukmu-tujuan-akhirku-memantaskan-diri/ )
-nendra rengganis-

Thursday, December 4, 2014

- Hati-Hati Menumbuhkan Harap -

Batu sekeras apapun akan hancur oleh hujan yang tak pernah berhenti.
Besi sekuat apapun akan rapuh dan berkarat oleh hujan yang tak pernah berhenti.
Tanah segersang apapun bisa menjadi subur oleh hujan yang tak pernah berhenti.
Akan aku beritakan sesuatu kepadamu,
Hatimu ini ibarat batu, ibarat besi, atau tanah gersang.
Jika pada suatu hari hujan datang 

Dan sedikit demi sedikit karena keteguhannya kamu akan menjadi luluh.
Paling tidak kamu harus mempertahankan dirimu cukup lama untuk mengetahui, 
apakah hujan hanya sebentar kemudian datang musim kering lagi hingga bertahun-tahun.
Atau dia hanya datang menggodamu dengan mendung dan gerimisnya dan setelah kamu sebagai tanah gersang berharap hujan turun, ternyata dia justru turun di tempat lain.
Hati-hati menumbuhkan harap


-kurniawan gunadi-

FACT ABOUT HOKA RAHAYU

Benernya di tag beberapa temen di instagram buat tantangan #factsaboutme, tapi udah lamaa bingit jadilah share di blog aja yaa daripada udah basi juga di IG heheh yang penting biar nampak kekinian getoooh :") okelah yaa dicoba...
so here we goooo !
1. Lahir dg bobot 4,8kg panjang 43cm .. sekarang tinggi 178cm bobot ** kg (udah deh kira2 aja sendiri)
2. Hoka? Hah? Hokahoka bento? *jedaaaas* sering dapet tanggepan gitu klo baru kenal.. gak ada sedikitpun inspirasi dari makanan khas jepang itu --" karena hoka berasal dari bahasa Aceh yang berarti kemana~ (heran juga artinya begituan, tp ternyata makna dan sejarahnya dalem banget, maicii bapak nama hoka-nya) :"")))
3. Hoka itu wanita kuat !! Kuat saat tersakiti, kuat saat dihujat, kuat saat dibentak, kuat saat orang-orang sekitarnya lagi sedih, kuat angkat galon, kuat angkat beras, dll.. paling gak kuat klo kelaparan bangeets jd pendiem deh..
4. Suka ungu, pink, dan warna-warna kecewekan lainnya tp mayoritas baju, rok, celana, tas, dan spatu warna item poloooss..
5. Kadang wise, kadang childish, kadang (macak) pinter, kadang (pura-pura) longor.. klo menurut saya sih sering wise (metuwek) dan longooorrr *kontradiktif sih tp ya gt* gak tau lagi klo menurut mas anang?? Huwekekek
6. Sesungguhnya saya itu tinggi dulu baru maen basket.. tapi orang-orang banyak yg ngira hoka tinggi karena basket.. cuiiiihhh pdhl hoka tinggi krn suka makan pohon kelapa --"
7. I'm lucky having a great family (ibuk, alm bapak, dua kakak cowok, mbk ipar, dan ponakan) they are my treasure :* apalagi ntr klo udah ada suami, lengkap deeeh :"))
8. Cita-cita jaman kecil pengen jadi pramugari dan ngajar ngaji di TPA.. pramugarinya udah endak mungkin, guru ngajinya masih mungkin kok :) cita-cita sekarang pengen ngurusi suami, anak, dan rumah trs sm usaha kecil2an yg berpenghasilan gede wkwk aamiin

9. Short term memory : jd apa2 sering dicatet.. klo barang-barang gitu sering ketlisut gak tau deh, dan klo lupa nama orang (yg sering ketemu gak mungkin lupa) mohon dimaafkan :*
10. Gupuhan, panikan, ceroboh, tergesa-gesa, heboh dewe klo lg emosi.. huuuffftt but always try to control my self.. seloow hokaa seloowww santai yaa, istighfar syg..
11. Kurang tertata isi tasnya, jd klo nyari apa gt sampe diobok2 sambil keburu buru --,,---
12. Lebih suka pake rok daripada celana .. feminim abiiss kan? *pdhl klo pake celana berasa sempit gara2 kegedean paha sm betis* *alhamdulillah ya*

 13. Pertama kali berhijab 5 April 2011 dan ati rasanya legaaaa banget .. smoga selalu istiqomah :)
14. Tipe tipe keturon.. gampang banget ketiduran dimana aja, pdhl yo lg kumpul sm tmn2 di tempat rame lho
15. Masih proses perbaiki diri dan menanti pangeran berkuda ungu yang mau menerima segala kekurangan hoka dengan penuh kesetiaan *mari kita Aamiin-i bersamasama .. Aamiin Aamiin
16. Karena tinggi jadi banyak peluang ikut ini itu tp Jaman SD pendiem sampe SMP ikutan PMR wkwkwk sempet ikutan agency OQ Modelling juga tapi mungkin bukan jalan saya disana hehehe. Truss trus jaman SMA pengen banget jd paskibra propinsi ato kota tp pas awal seleksi di tingkat kota gt udah gak lolos, disamperin sm panitianya pak yg nyeleksi gt sm blg "mbak tingginya bagus lho, tp beda sendiri klo di barisan, jd gak setara sm cewek2 lainnya di barisan, kata si bapak yg akan selalu saya ingat" dan akhirnya semenjak itu nggondok deh males aktif lg di paskib SMADA dan fokus maen basket sekolah, trs ditawari club sahabat surabaya, trs jadi enjoy di dunia perbasketan deh sampe2 kuliah msk Teknik Industri UB cm pake sertifikat basket. Krn basket juga saya jadi mudah bersosialisasi dan bs keliling sebagian kotakota serta pulau lain di indonesia, coba paskib mungkin beda lagi ceritanya heheh yaaaappp Allah selalu punya rencana baik untuk hambanya :))) #mendadakcurhat

17. Paling seneng liat adek-adek gendut, punel, ginukginuk.. rasanya pengen bgt dibawa pulang aja.. guemeees
18. Sering tengkar-tengkar kecil sm mas agam, klo sm mas nagan gak pernah blaaaass.. tau tuh susah bgt akur, klo adem ayem boseni emg wkwkk but i always love my brothers.. they will be my friend, my brother, my father, but cannot be my mother and my husband lho bbzzzzzttt ojo sampe :3
19. Sesungguhnya lebih baik tinggi badan daripada tinggi hati .. so keep humble ! :))
20. Flexibel ! Tp kadang sering diem ato nggondok gt kalo ada something yang gak sesuai sm atinya naah lo paling males kan hehehe but i'm trying to change it.. must !!!!!
21. Kadang pendiem, tp lebih sering pecicilan bangeets ..
22. Suka salah teks klo nyanyi tp pede aja langsung diterabas, penting nadanya bener udah bahagia kok hahaa

23. lumayan gaptek, plisssss jgn jadi dinosaurus hokaaaa :"'''
24. Suka baca-baca artikel ato buku tentang self development, people development, about business, biografi orang2 susah jadi sukses dengan seluruh proses ngesot-ngesotnya, tentang keislaman, yang mbanyol, yang enteng gak terlalu berat deh.. karena bobot sama dosa nih udah berat banget :3
25. I love my self, my life, and everything i have.. Alhamdulillah sekali Ya Allah :)
26. Insya Allah selalu tepat janji dan ONTIME.. kalopun gak ontime mesti pamit dulu "eh sorry hoka ntr telat yaaa", tp pas sampai TKP tetep aja banyak yang lebih telat dan dateng dengan suwantai bgt gak pake minta maaf *tauu aah gelap - langsung betek*
27. Menganut kepercayaan "Life balancing" selalu berusaha menyeimbangkan hidup mulai dari kehidupan pribadi, kerjaan, ngegahol sm temen, quality time sm keluarga,  dan prioritas ibadah tentunya (aamiin hrs bener-bener diusahakan dan istiqomah) 


dan dari semua kebiasaan hoka bisa ditarik kesimpulan kalo saya seorang ENFP ! yaaappp hasil tes MBTI berkali kali tetap saja ENFP hehehe, berikut detail untuk Strengths and Weaknesses dari seorang ENFP (langsung liat pict aja)
UDAAAAAH GITU AJAAAAA. THANKYOUUUUU  :)))

Thursday, November 20, 2014

Cara Nabi Mendidik Anak (Bayi hingga Usia 10 Tahun)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah teladan terbaik sepanjang zaman. Beliau bukan hanya mengajarkan bagaimana tata cara beribadah mahdhah, tetapi juga mencontohkan bagaimana mengatur keluarga hingga negara. Termasuk, cara mendidik anak.
Bagaimana cara Nabi mendidik anak? Berikut ini tahapan-tahapannya secara umum, khususnya tahap I (sebelum anak lahir hingga usia 3 tahun) dan tahap II (usia 4 – 10 tahun). Sedangkan tahap III sampai V akan ditulis pada artikel berikutnya. Dan semoga nanti semua tahapan ini bisa dijelaskan satu per satu dalam rubrik parenting (pengasuhan) secara terpisah.

Tahap I: Sebelum anak lahir hingga usia 3 tahun

Mendoakan calon bayi
Mendoakan dan memberikan perhatian saat anak dalam kandungan
Mendoakan saat bayi hendak lahir
Menyambut bayi dengan azan
Men-tahniq bayi
Mengajarkan atau memperdengarkan zikir dan doa kepada bayi
Mengeluarkan zakat (fitrah) sejak ia lahir
Menyayanginya
Memberinya nama yang baik pada usia 7 hari
Melaksanakan aqiqah pada usia 7 hari
Mencukur rambutnya dan bersedekah setara dengan berat rambut pada usia 7 hari
Bercanda dengan bayi
Menyebut anak dalam gelar orang tua
Meng-khitan
Menggendong bayi
Menanamkan tauhid sejak dini
Memperhatikan penampilan dan gaya rambutnya
Mengajarkan cara berpakaian
Selalu menghadirkan wajah ceria kepadanya
Menciumnya dengan penuh kasih sayang
Bercanda dan bermain dengan anak-anak
Memberi hadiah
Mengusap kepalanya sebagai bentuk kasih sayang
Mengajarkan dan meneladankan kejujuran pada anak

Tahap II: Anak Usia 4 – 10 Tahun

Membiasakan panggilan kasih sayang dengan nada lembut
Menemaninya bermain dan belajar
Mengajaknya berjalan sambil belajar
Memberikan kesempatan yang cukup untuk bermain
Menghargai permainannya
Menanamkan akhlak mulia
Mendoakannya
Mengajaknya berkomunikasi secara intensif dan minta pendapatnya
Mengajarkan amanah dan menjaga rahasia
Membiasakan makan bersama
Mengajarkan adab makan
Mengajarkan persaudaraan dan kerja sama
Melerai ketika anak-anak bertengkar
Melatih kecerdasannya dengan lomba dan cara lainnya
Memberikan hadiah kepada anak yang berhasil melakukan sesuatu atau berprestasi
Menjaga anak dengan zikir dan mengajarinya berzikir
Mengajarkan azan dan shalat
Mengajarkannya berani karena benar
Jika anak mampu, boleh ditunjuk sebagai imam

[Diadaptasi Keluargacinta.com dari buku Athfalul Muslimin Kaifa Rabbahum Nabi al Amin karya Jamal Abdurrahman. Buku ini telah diterjemahkan oleh banyak penerbit dalam beberapa versi, antara lain: Parenting Rasulullah, Cara Rasulullah SAW Mendidik Anak, dan Islamic Parenting

Thursday, November 6, 2014

Peraturan baik untuk anak

*note for my future*

Mungkin orangtua jaman sekarang tidak sanggup melihat anaknya sedikit marah dan kesal sehingga cenderung memberi anak-anaknya kebebasan, yang sayangnya, seringkali terlalu bebas. Ada baiknya anak-anak dikenalkan pada aturan agar ritme hariannya lebih teratur dan agar kelak juga bisa menyesuaikan diri dengan norma-norma di masyarakat.
 

1.  Tidur pada waktu yang tepat
Seringkali orangtua menuruti keinginan bermain anaknya, walau itu berarti menunggu hingga larut malam. Padahal, tidur malam yang nyenyak sangat penting untuk perkembangan kecerdasannya. Ajak anak untuk tidur tepat waktu. Anak-anak pasti sulit diajak tidur pada awalnya, tapi kalau Anda konsisten, anak-anakpun akan lambat laun akan menuruti. Andapun bisa mendapatkan me time atau couple time bersama pasangan.

2. Jangan beri anak-anak kudapan manis setiap hari 
Cake, permen, dan coklat sebaiknya Anda simpan sebagai makanan spesial. Anak-anak seharusnya tidak dibiasakan untuk mendapatkannya kapanpun mereka suka, jadi mereka akan lebih menghargai saat ada yang memberi mereka kudapan manis sebagai suguhan atau hadiah. Anda juga bisa menggunakannya sebagai hadiah kalau mereka menunjukkan prilaku yang baik.

3. Biasakan anak membeli barang dengan uangnya sendiri
Saat anak sudah memasuki usia SD, mereka sudah bisa diberi pengertian bahwa untuk mendapatkan sesuatu ada harga yang harus dibayar. Kalau mereka ingin gadget, mainan, atau ingin menonton biioskop, maka mereka harus membayarnya dari uang tabungannya sendiri. Orangtua harus berhenti membelikan sesuatu untuk anak hanya karena mereka menginginkannya. Anakpun akan lebih menghargai apa yang mereka miliki karena berasal dari keringat sendiri.

4. Mengajari Anak untuk Menghadapi Masalahnya Sendiri dan Mengikuti Aturan
Ada beberapa orang yang saat memasuki dunia kerja mengalami gegar sosial, karena ternyata mereka harus menerima bahwa perintah bos tidak bisa ditolak, atau peraturan-peraturan jam kerja, lembur, dan cuti, yang harus mereka taati, bahkan mungkin mereka harus memiliki rekan kerja yang tidak cocok dengan dirinya.

Sebetulnya, hal itu bisa dihindari apabila sejak kecil mereka dibiasakan untuk menghadapi masalahnya sendiri. Apabila Anda tidak menyukai guru sekolah, kelompok belajarnya, posisi di tim sepakbola, atau bahkan sekadar tempat duduk di jemputan, tahan diri untuk ikut campur. Apabila anak merasa tidak nyaman, ajari dia untuk menyampaikannya kepada guru atau temannya sehingga ia akan memperoleh solusi. Kalaupun dia terpaksa harus mengikuti, yakinkan dia tetap bisa melakukan hal terbaik dalam situasi yang tidak menyenangkan sekalipun.

5. Biarkan mereka melakukan hal-hal sulit
Saat anak mengalami kesulitan, jangan buru buru memberi bantuan. Rasa percaya dirinya justru akan membesar dan lebih besar lagi apabila ia merasa berhasil mengerjakan sesuatu yang menantang karena tadinya dianggap sulit.

6. Beri mereka jam dan alarm
Akan jauh lebih baik bila mereka belajar untuk mengelola waktunya sendiri. Anda pasti tidak akan selalu bisa mengingatkan mereka untuk mematikan televisi dan bersiap untuk aktivitas yang lain kan?

7. Jangan selalu membeli apa yang sedang jadi tren
Ajari anak-anak untuk bersyukur dan puas dengan apa yang mereka milliki. Selalu mengacu pada tren dan selalu khawatir dianggap ketinggalan jaman akan mengantarkan mereka menjadi pemboros dan tidak bahagia dengan hidup mereka sendiri.

8. Biarkan mereka merasakan kehilangan
Kalau anak Anda merusak mainan, jangan ganti mainan itu. Justru ia seharusnya memperoleh pelajaran berharga untuk menjaga barang-barang miliknya sendiri. Kalau anak Anda lupa mengerjakan pekerjaan rumah atau terlambat hingga ketinggalan pelajaran, biarkan dia mengejar ketertinggalannya dengan jam pelajaran ekstra. Anda tengah mengajarkan anak-anak Anda rasa tanggungjawab, dan dengan terbiasa bertanggungjawab, mereka juga bisa membantu mengingatkan Anda akan hal-hal yang Anda lupa untuk lakukan.

9. Kendalikan tontonan dan bacaan anak
Kalau saja orangtua lainnya membiarkan anak-anak mereka melompat dari jembatan, apa Anda akan mengikuti mereka? Jangan biarkan anak anda menonton acara atau memainkan game yang tidak sesuai untuk anak-anak hanya karena teman-temannya diperbolehkan melakukannya oleh orangtua mereka. Kalau Anda konsisten, orangtua lain mungkin malah akan mengikuti. Ciptakanlah budaya pertemanan yang positif.

10. Ajari mereka minta maaf
Kalau anak Anda melakukan kesalahan, ajari ia untuk memperbaiki kesalahan itu dan meminta maaf. Begitipun bila Anda melakukan kesalahan, beri contoh dengan meminta maaf kepada mereka.

11. Ajarkan sopan santun dan tata krama
Jangan remehkan kemampuan anak untuk memperlakukan orang lain dengan rasa hormat. Membiasakan anak untuk cium tangan sebelum pergi sekolah, cium tangan guru atau kakek neneknya adalah contoh kecil yang penting sehingga mereka mempelajari budaya sopan santun. Dalam jangka panjang, Anak anda akan tumbuh menjadi orang yang menghargai etika. Kita tahu betapa langkanya orang yang memelihara etika di jaman sekarang ini, bukan?

12. Beri mereka pekerjaan tanpa dibayar
Membantu Nenek berkebun, membantu Ayah mengecat pagar, atau mengajari anak anak yang lebih kecil untuk membaca atau mengaji. Kegiatan sukarela membantu anak untuk belajar bahwa memberi adalah bagian dari hidup. Merekapun dapat mengerti bahwa di luar diri mereka, ada orang lain yang juga memiliki kebutuhan dan masalahnya sendiri, dan bahkan mungkin masalah orang lain lebih pelik dari masalah mereka.

Aturan-aturan yang baik harus juga disertai balasan yang pantas dan membahagiakan. Jangan lupa beri mereka pujian bila mereka melakukannya. Selalulah tunjukkan bahwa Anda menyayangi mereka. Semoga, Anak-anak akan tumbuh menjadi anak yang cerdas, beretika, dan bermental tangguh.

Sumber : Familyshare.com